Sabtu, 06 September 2025

 .........”Allahuma Sholi Ala Satidina Muhamad Wa Ala Ali Sayidina Muhamad”.......

Setiap keluarga mendambakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Namun, kenyataannya tidak sedikit rumah tangga yang penuh masalah: anak-anak sulit diatur, istri tidak menghargai suami, suami berkhianat, hingga akhirnya kehidupan rumah tangga menjadi kacau. Banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya adalah  sumber penghasilan yang tidak halal atau mengandung syubhat (keraguan status halal-haramnya). Islam menekankan bahwa keberkahan hidup dalam rumah tangga sangat erat kaitannya dengan kehalalan rezeki. Rezeki yang halal menjadi sumber keberkahan, ketenangan, dan kasih sayang. Sebaliknya, rezeki yang haram justru membawa kerusakan, pertengkaran, dan kehancuran keluarga. Allah SWT berfirman:

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Rasulullah juga bersabda: Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. (HR. Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa amal ibadah pun tidak diterima apabila seseorang menghidupi dirinya dan keluarganya dari sumber yang haram.

Dampak Buruk Penghasilan Haram atau Syubhat dalam Rumah Tangga

1. Anak-anak menjadi bandel dan sulit diarahkan

Rezeki haram yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau nafkah akan memengaruhi jiwa anak. Makanan yang tidak halal menjadi penghalang terkabulnya doa, mengeraskan hati, dan membuat anak mudah terjerumus dalam kenakalan serta membangkang kepada orang tua.

2. Istri menjadi durhaka kepada suami

Nafkah yang tidak halal tidak membawa ketenangan dalam hati seorang istri. Hati yang gelisah memunculkan rasa tidak hormat kepada suami. Akibatnya, rumah tangga dipenuhi pertengkaran, curiga, dan durhaka.

3. Suami menjadi penghianat dan tidak bertanggung jawab

Penghasilan haram menumbuhkan sifat rakus, tamak, dan tidak pernah merasa cukup. Hal ini bisa membuat suami berkhianat, baik dalam urusan keuangan maupun kesetiaan. Bahkan, rezeki haram membuat hati semakin jauh dari iman, sehingga suami bisa meninggalkan kewajiban sebagai kepala rumah tangga.

4. Rumah tangga kehilangan keberkahan

 Ketika keberkahan hilang, harta yang banyak tidak mendatangkan kebahagiaan. Rumah terasa sempit meskipun besar, rezeki cepat habis meskipun melimpah, dan hati selalu gelisah meskipun tampak berkecukupan.

 

Pandangan Ulama

Imam Al-Ghazali dalam kitab *Ihya Ulumuddin* menjelaskan bahwa makanan haram atau syubhat akan mengeraskan hati dan menjadi hijab (penghalang) antara seorang hamba dengan Allah. Ulama lain menegaskan bahwa keberkahan rezeki bukan dilihat dari banyaknya, tetapi dari keridhaan Allah atas cara mendapatkannya.

Perspektif Psikologi dan Kehidupan Modern

Dari sisi psikologi, penghasilan yang diperoleh dengan cara curang atau tidak halal menimbulkan rasa bersalah yang terus menghantui. Hal ini dapat memicu stres, emosi tidak stabil, dan mudah melampiaskan amarah kepada keluarga. Anak-anak pun menyerap energi negatif ini sehingga mereka tumbuh dalam suasana penuh ketegangan. Secara sosial, keluarga dengan rezeki haram juga rawan terjerumus pada gaya hidup konsumtif, pamer, dan jauh dari nilai kesederhanaan. Semua ini mempercepat kehancuran rumah tangga.

 

Jalan Keluar: Menjemput Keberkahan Rezeki

1. Mencari nafkah dari sumber yang halal  meski terlihat kecil, karena yang sedikit tapi halal lebih berkah daripada banyak tapi haram.

2.Meninggalkan pekerjaan atau usaha yang syubhat, sebab Rasulullah bersabda:

Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. (HR. Tirmidzi)

3. Memperbanyak doa dan istighfar, karena ampunan Allah dapat membuka pintu rezeki yang luas.

4. Mendidik keluarga dengan kesadaran pentingnya rezeki halal, sehingga istri dan anak-anak turut mendukung.

Rumah tangga yang diberkahi adalah rumah tangga yang dibangun di atas rezeki halal. Penghasilan dari jalan haram atau syubhat hanya akan merusak anak, meretakkan hubungan suami istri, dan menghancurkan ketenangan hidup. Karena itu, setiap muslim wajib berhati-hati dalam mencari nafkah agar keberkahan selalu menaungi keluarganya.

 


  .........”Allahuma Sholi Ala Satidina Muhamad Wa Ala Ali Sayidina Muhamad”....... Setiap keluarga mendambakan rumah tangga yang sakinah, m...